*Isu Cina vs Pribumi Sudah Sampai ke Masyarakat Bawah*
Daftar di braderhud dan dapatkan income via handphone Anda scr otomatis
Jokowi’s consent needed for governors to run for president
Fw: Colossal-Sized American Bank On Verge of Collapse?
----- Forwarded message -----From: "Profit Confidential" <profitconfidential@lombardipublishing.com>To: "bimagroup@yahoo.com" <bimagroup@yahoo.com>Cc:Sent: Wed, 25 Jul 2018 at 2:02Subject: Colossal-Sized American Bank On Verge of Collapse?![]()
Dear Reader:
This could be the most important thing you've EVER heard for the sake of your finances... your retirement... even your family.
That's because a well-known colossal-sized American bank could be on the verge of a catastrophic collapse...
They're 70-times more leveraged than Lehman Brothers was before it went bankrupt in 2008.
It's a collapse that will erase $44 trillion (yes, "trillion") off the map—in the blink of an eye.
Nobody in the financial media has come across this yet.
In fact, I doubt 1-in-1,000 people is privy to this bank's fast-approaching demise.
Just like nobody believed Lehman Brothers, a 158-year-old American mainstay, would ever collapse.
But we've gotten to the bottom of the accounting hoax behind this next big American bank to go under.
And I can only reach one conclusion:
This bank's collapse is not only inevitable...
It's imminent.
And just like Lehman, the government won't bail them out.
To warn our customers about what's going to happen, we've released an alarming new video.
To see which big American bank could go bankrupt, click here now.
Yours truly,
Michael Lombardi, MBA
Founder, Profit Confidential
Whitelist | Follow Us on Twitter | Like Us on Facebook
Privacy Policy & Terms of Use | Unsubscribe | Contact Us
Profit Confidential is only sent to those who subscribed to it and is not intended to be sent to those who do not want to receive it. This e-mail was sent to bimagroup@yahoo.com because you opted in to this service. If you want to stop receiving Profit Confidential e-mails, simply unsubscribe.
Copyright © 2018; Lombardi Publishing Corporation. All rights reserved. No part of this e-newsletter may be used or reproduced in any manner or means, including print, electronic, mechanical, or by any information storage and retrieval system whatsoever, without written permission from the copyright holder.
Our Editorial Policy: Our writers are forbidden to own any stock they write about. All our editors execute a document to this effect.
Warning: There is no magic formula to getting wealthy quickly. Success in investment vehicles with the best prospects for price appreciation can only be achieved through proper and rigorous research and analysis. The opinions in this e-newsletter are just that, opinions of the authors. We are 100% independent in that we are not affiliated with any bank or brokerage house. Information contained herein, while believed to be correct, is not assured as accurate. Investing often involves high risks. Please do not invest with money you cannot afford to lose.
Nothing herein should be considered personalized investment advice. Before you make any investment, check with your investment professional (advisor). We urge our readers to review the financial statements and prospectus of any company they are interested in. We are not responsible for any damages or losses arising from the use of any information herein. We are a publishing company offering opinion and commentary of our editors and analysts. Past performance is not indicative of future results.
Lombardi Publishing Corporation, Financial Publications Division
Tel: 1-866-744-3579
customerservice@profitconfidential.com
350 5th Avenue, 59th Floor,
New York, NY 10118
3300 Hwy 7, Suite 808,
Concord, ON L4K 4M3
Fwd: Bank of Litecoin
| To view this email as a web page, go here. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Isu ttg Serbuan TKA China ternyata cuma Hoax.
Perang Dagang AS vs Indonesia dan RRC (Ekonomi dan Politik)
*"Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik"*
Hubungan Dagang Indonesia dan RRC

Namun sudah lima tahun Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China diteken, sayangnya dari neraca perdagangan saja tampak China yang menangguk keuntungan dari kemitraan tersebut.
Defisit neraca perdagangan Indonesia dari China sejak 2013 terus meningkat dan mencapai puncak pada 2015 dengan jumlah US$14,36 miliar. Pada 2017, defisit neraca perdagangan Indonesia dari China mencapai US$12,72 miliar.
Realisasi investasi China di Indonesia juga tidak besar. China masih kalah dengan sejumlah negara lainnya seperti Singapura dan Jepang. Padahal China pemilik 30 persen cadangan devisa dunia yakni sekitar US$4 triliun.
Lihat juga:'Jeratan Manis' China pada Ekonomi Indonesia |
Produk-produk China pun dengan mudahnya masuk ke Indonesia. Sebaliknya, produk Indonesia sangat sulit penetrasi pasar ke China. Antara lain buah-buahan seperti salak, mangga, produk perikanan atau sarang burung.
Perdagangan juga kerap digunakan China untuk menekan negara lain. Hal ini terjadi dengan Filipina. Dimana Beijing melarang impor mangga dari Filipina, saat bertikai dengan negeri itu soal pulau karang di Laut China Selatan.
Sejatinya, kerja sama politik dengan Indonesia pun tidak ada yang konkret. Bahkan China mulai menganggap Indonesia sebagai bagian dari masalah di Laut China Selatan. Wilayah tersebut dianggap sebagai daerah pencarian ikan tradisional mereka. China juga 'kebakaran jenggot' saat Indonesia mengubah nama perairan di sekitar Kepulauan Natuna sebagai Laut Natuna Utara.
Di bidang sosial budaya, Indonesia memberi kemudahan fasilitas visa on arrival bagi para wisatawan China. Namun hal serupa tidak dilakukan China.
Isu maraknya tenaga kerja asing (TKA) asal Negeri Tirai Bambu di Indonesia turut menjadi perhatian sebagian pihak yang "khawatir" jika pemerintah terlalu mendekat dan terlena dengan China.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menilai kunjungan Li hari ini adalah lawatan "mahal" bagi relasi kedua negara. Teuku mengatakan Indonesia menganggap China salah satu mitra penting di kawasan, begitu juga sebaliknya China.
"Indonesia di mata China itu penting karena kurs mata uangnya tinggi jika dibandingkan dengan yuan. Secara politik, ekonomi, dan militer China juga menganggap Indonesia penting di kawasan. China menganggap eksistensinya di kawasan tidak berarti tanpa bantuan Indonesia," kata Teuku kepada CNNIndonesia.com, Minggu (7/5).
Di sisi lain, Teuku mengatakan tak dapat dipungkiri lagi jika investasi China juga dibutuhkan Indonesia. Menurutnya, China memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif hingga kemampuan manajemen yang persisten soal invetasi.
Hal ini, papar Teuku, bisa dimanfaatkan pemerintah lebih baik lagi dalam memaksimalkan kerja sama ekonomi antara kedua negara.
Meski begitu, Teuki mewanti-wanti Presiden Joko Widodo jangan sembarangan membuat perjanjian kerja sama dengan China. Dia mengatakan Jokowi harus menunjukkan ketegasan dihadapan China saat bernegosiasi, khususnya saat bertemu dengan PM Li di Istana Bogor nanti.
Teuku mengatakan meski China memiliki keunggulan di atas Indonesia dalam beberapa hal seperti ekonomi, militer, hingga teknologi, kedua negara tetap setara.
"Dan Jokowi harus sensitif, berhati-hati, dan tegaskan diri bahwa jika China mau bekerja sama dengan Indonesia, kita yang kontrol mereka. Pemerintah harus hati-hati, jangan sampai masyarakat umum menyalah-artikan lawatan Li ini seolah-olah bentuk tekanan China kepada Indonesia," kata dia.
Teuku mengambil contoh polemik TKA asal China yang belakangan diperdebatkan. Meski Jakarta membutuhkan dana Beijing, pemerintah harus bisa memastikan China tetap menuruti hukum dan tata cara berbisnis di Indonesia.
"Pemerintah harus meyakinkan China dengan tegas bahwa Indonesia ingin jalin kerja sama dengan mereka, tapi tetap sesuai dengan klausul dan kepentingan kita," ujar Teuku.
Teuku mengatakan meski kerja sama kedua negara kian erat, tak berarti kebijakan Indonesia mulai condong ke China. Kedekatan Beijing-Jakarta, paparnya, juga tak bisa begitu saja diartikan sebagai pro-China.
Menurutnya, penguatan hubungan Beijing dan Jakarta dalam beberapa tahun terakhir merupakan buah dari politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif serta pragmatis.
"Memang kesannya kedekatan Indonesia-China pesat sekali. Kesannya Indonesia itu jadi pro-China, sebenarnya tidak juga. Sikap Indonesia ini saya rasa masih berbicara dalam kerangka politik luar negeri bebas aktif yang berusaha menyeimbangkan balance of power di kawasan," ujar Teuku.
"Menganggap pemerintah pro-China mungkin terlalu jauh, sebab jika dilihat dari investasi, China masih terhitung lima besar. Masih ada Singapura, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan," kata dia.
